Menu


300 Tahun Kebo-Keboan di Banyuwangi, Ini Nilai-Nilainya

300 Tahun Kebo-Keboan di Banyuwangi, Ini Nilai-Nilainya

Kredit Foto: Kabupaten Banyuwangi

Konten Jatim, Jakarta -

Upacara adat Kebo-keboan telah menjadi tradisi asal Jawa Timur, tepatnya Banyuwangi, selama 300 tahun lamanya. Tradisi ini sendiri merupakan milik masyarakat Using di Kabupaten Banyuwangi yang bertujuan menangkal wabah penyakit dan permohonan kepada Tuhan YME agar diberi keselamatan.

Seperti kebanyakan tradisi daerah lainnya, Kebo-Keboan tentunya juga punya nilai-nilai tersendiri. Tradisi yang masih dilestarikan ini punya pengaruh nilai religius dan spiritual, kepribadian, dan nilai sosial yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Using di Desa Alasmalang.

Berikut rincian dari 3 nilai tersebut menurut Jurnal “Nilai-Nilai yang Terdapat pada Upacara Adat Kebo-Keboan Tradisi Asli Banyuwangi” oleh Jamiati Ritami:

Baca Juga: Tradisi Kebo-Keboan Asal Banyuwangi, Orang Jadi Kebo Demi Hindari Wabah

  • Nilai Religius

Keimanan dan ketakwaan, keteringatan, ketaatan terhadap firman, dan kepasrahan manusia terhadap Tuhan tercakup dalam nilai religius dalam sastra Jawa. Dalam tradisi Kebo-Keboan, terlihat pada prosesi slametan yang mencerminkan ritual asal agama Islam. Bahkan, semua agama di Jawa melaksanakan slametan.

  • Nilai Kepribadian

Nilai kepribadian ialah nilai yang dipakai manusia untuk melangsungkan dan memaknai hidup dan oleh masing-masing manusia. Intinya, nilai kepribadian selalu melekat pada diri individu dan setia individu punya sifat yang unik, membedakannya dengan individu lain. 

Dilihat dalam tradisi Kebo-Keboan, nilai ini tercermin pada masyarakat Desa Alasmalang yang konsisten terus mengingat dan menerapkan pesan nenek moyang dan tetap melestarikan ritual ini.

  • Nilai Sosial

Nilai sosial merupakan nilai yang mendasari, menuntun, dan menjadi tujuan tindakan dan hidup sosial manusia dalam mempertahankan, melangsungkan, dan mengembangkan hidup sosial manusia. Nilai sosial seperti bakti kepada orang lain, rukun, musyawarah, kegotongroyongan, dan sebagainya, juga ada dalam konteks sastra Jawa.

Tradisi Kebo-Keboan juga menerapkan salah satu bentuk nilai sosial, yakni kegiatan gotong royong yang dilakukan sebelum upacara adat oleh seluruh warga Desa Alasmalang.

Baca Juga: Reshuffle ‘Ngaret’ Diduga karena Jokowi Risau Sama Ancaman NasDem

Tradisi Kebo-Keboan dianggap dapat dijadikan pandangan hidup penduduk Desa Alasmalang maupun dan seluruh Indonesia karena membawa pada keharmonisan, kehidupan, dan kesadaran tentang suatu hal yang transenden, suci dan agung, dan membuat manusia menjadi lebih menghargai makhluk lain.

Khazanah Islam: Apakah Boleh Memakan Hadyu Setelah Dikurbankan? Ini Penjelasannya