Menu


Buntut Saling Sindir Yenny Wahid vs Cak Imin, Alissa Wahid Diminta Ambil Alih PKB: Saya Anak Gus Dur Sang Pendamping Rakyat

Buntut Saling Sindir Yenny Wahid vs Cak Imin, Alissa Wahid Diminta Ambil Alih PKB: Saya Anak Gus Dur Sang Pendamping Rakyat

Kredit Foto: Instagram @Alissa_wahid

Konten Jatim, Jakarta -

Buntut saling balas sindiran antara putri kedua Gus Dur dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar atau Cak Imin telah menyita perhatian warganet.

Bahkan kini putri pertama Gus Dur Alissa Wahid ikut terseret dan diminta warganet untuk mengambil alih PKB dari tangan Cak Imin.

Hal itu terungkap dari cuitan Alissa Wahid yang membalas permintaan seorang warganet untuk mengambil alih PKB.

Dalam unggahan itu, seorang seorang warganet dengan akun @MaduMata mengatakan dirinya tak pernah memilih PKB lagi sejak Gus Dur wafat.

"Ambil alih PKB aja mba, setelah Gus Dur wafat saya malah ogah pilih PKB," kata warganet tersebut.

Mengetahui hal itu, Alissa Wahid langsung membalasnya dan menegaskan bahwa ia bukan seorang anak Gus Dur sang politis.

Namun Alissa Wahid menegaskan bahwa dirinya merupakan anak dari Gus Dur sang pendamping rakyat.

"Saya bukan anak #GusDur Sang Politisi, mas. Saya anak Gus Dur Sang Pendamping Rakyat," kata Alissa Wahid, dikutip Konten Jatim dari akun Twitter @AlissaWahid, Kamis (23/06/2022).



Alissa Wahid kemudian menyampaikan bahwa ia tidak ada kepentingannya dengan permasalahan anjlok atau naiknya elektabilitas PKB.

Baca Juga: Menohok! Yenny Wahid Sindir Balik Muhaimin Iskandar Soal PKB: Cak Imin Kan Bisanya Merebut Partai Orang Lain

Akan tetapi, ia kembali menegaskan bahwa dirinya mempunyai kewajiban untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan Gus Dur yang saat ini dirusak oleh tindakan sesat.

"Saya tidak berkepentingan PKB anjlok atau naik. Saya berkepentingan pada bagaimana sosok Gus Dur & nilai2 perjuangannya dirusak oleh tindakan-tindakan menyesatkan," ungkapnya.

Disinyalir cuitan Alissa Wahid itu ditujukan terhadap Cak Imin yang sebelumnya dinilai telah membajak PKB dari Gus Dur.

Seperti diketahui, konflik keluarga Gus Dur vs Cak Imin memang sudah berlangsung sejak lama.

PKB yang pada awalnya didirikan oleh Gus Dur, dikuasai oleh Cak Imin sejak 25 Mei 2005 sampai sekarang.

Hal itu pun membuat keluarga Gus Dur meradang terhadap Cak Imin.

Bertahun-tahun lamanya konflik keluarga Gus Dur vs Cak Imin ini terus berlanjut.

Bahkan sebelum Alissa Wahid membuat pernyataan seperti itu, Cak Imin melakukan serangan terhadap putri kedua Gus Dur yaitu Yenny Wahid.

Cak Imin juga sempat melontarkan sindiran terhadap Yenny Wahid yang dianggapnya sering merecoki urusan dapur PKB.

Ia lantas mengatakan Yenny Wahid gagal membuat partai sendiri dan malah menyerang PKB di setiap edisi pemilu.

Baca Juga: Gak Habis Pikir Dengan Kelakuan Pengemudi ini, Bisa-bisanya Mobil yang Dikendarainya Sampai Nyungsep di Pantai, Untung Gak Sampe Tengah Laut

Padahal menurutnya partai yang dikelolanya itu saat ini sudah membaik sehingga ia melarang Yenny Wahid untuk ikut campur lantaran bukan kader PKB.

"Yeni itu bukan PKB, bikin partai sendiri aja gagal lolos, berapa kali pemilu nyerang PKB gak ngaruh, PKB malah naik terus suaranya, jadi ngapain ikut - ikut mengatur PKB, hidupkan aja partemu yang gagal itu.. PKB sdh aman nyaman kok," kata Cak Imin.

Di sisi lain, Yenny Wahid menanggapi santai sindiran yang dilontarkan Cak Imin itu.

Menurut Yenny Wahid, apa yang dikatakan Cak Imin itu benar karena dirinya bukan kader PKB versi Muhaimin, melainkan PKB Gus Dur.

"Hahaha inggih Cak. Tapi ndak usah baper to, Cak. Dan memang benar, saya bukan PKB Cak Imin. Saya kan PKB Gus Dur," kata Yenny Wahid.

Adik kandung Alissa Wahid itu pun kemudian memberikan sindiran balik terhadap Cak Imin.

Ia menegaskan bahwa Cak Imin belum tentu bisa membuat partai sendiri, karena selama ini cuma ahli dalam mengambil parpol orang lain.

"Cak Imin juga belum tentu lho bisa bikin partai sendiri.. kan bisanya mengambil  partai punya orang lain. Peace, Cak," pungkasnya.

Khazanah Islam: Masuk Daftar Nominator Warisan Budaya Tak Benda, Reog Ponorogo Segera Diakui UNESCO