Menu


Masih Sering Dipakai Buat Cari Hari Baik, Ini Dasar-Dasar Kalender Jawa

Masih Sering Dipakai Buat Cari Hari Baik, Ini Dasar-Dasar Kalender Jawa

Kredit Foto: Wikipedia

Konten Jatim, Jakarta -

Penanggalan Jawa atau kalender Jawa merupakan sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya, serta daerah-daerah yang dipengaruhinya. Sampai saat ini, penanggalan Jawa masih banyak digunakan masyarakat, salah satunya untuk menemukan hari baik.

Ada keistimewaan dalam penanggalan ini karena memadukan sistem Islam, Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang menjadi bagian budaya Barat. 

Menurut berbagai sumber, sistem kalender Jawa menggunakan dua siklus hari, yakni siklus mingguan yang punya tujuh hari (Ahad sampai Sabtu, saptawara), dan pekan pancawara yang punya 5 hari pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).

Baca Juga: Antusiasme Sambut Hari Raya Galungan, Pemkab Badung sampai Bali United Turun Tangan

Sebagian nama bulan dalam kalender Jawa diambil dari kalender Hijriyah dengan nama Arab. Namun, beberapa di antaranya memakai nama berbahasa Sansekerta, seperti Pasa dan Sela. Sementara itu, nama Apit dan Besar asalnya dari bahasa Jawa dan Melayu.

Sebagian penamaan bulan berkaitan dengan hari-hari besar yang ada dalam kalender Hijriyah, seperti Pasa yang berkaitan dengan puasa Ramadan, Mulud berkaitan dengan Maulid Nabi di bulan Rabiulawal, serta ruwah yang berkaitan dengan Nisfu Sya’ban.

Berikut nama-nama bulan Jawa Islam dalam primbon "Kitab Primbon Betaljemur Adammakna" dari Kanjeng Pangeran Haryo (KPH) Tjokroningkrat:

  1. Sura (30 hari)
  2. Sapar (29 hari)
  3. Mulud atau Rabingulawal (30 hari)
  4. Bakda Mulud atau Rabingulakir (29 hari)
  5. Jumadil Awal (30 hari)
  6. Jumadil Akir (29 hari)
  7. Rejeb (30 hari)
  8. Ruwah (Arwah, Saban) (29 hari)
  9. Pasa (Puwasa, Siyam, Ramelan) (30 hari)
  10. Sawal (29 hari)
  11. Sela (Dulkangidah, Apit) (30 hari)
  12. Besar (Dulkahijjah) (29/30 hari)

Baca Juga: 7 Lokasi Wisata Populer nan Indah di Gunung Semeru, Jangan Menoleh di Tanjakan Cinta

Total hari dari kedua belas bulan tersebut ialah 354 atau 355 hari. Adapun, kalender Jawa menggabungkan periode peredaran bulan, saptawara (mingguan), dan pancawara (pasaran). Rumusannya dibuat agar mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Khazanah Islam: Apakah Boleh Memakan Hadyu Setelah Dikurbankan? Ini Penjelasannya