Menu


Oh, Jadi Begitu! Cara Main Lembaga Survei Dibongkar Habis oleh 2 Doktor Ini, Siapa yang Jadi Capres Ditentukan Sesukanya oleh Lembaga Survei

Oh, Jadi Begitu! Cara Main Lembaga Survei Dibongkar Habis oleh 2 Doktor Ini, Siapa yang Jadi Capres Ditentukan Sesukanya oleh Lembaga Survei

Kredit Foto: ANTARA FOTO/Novrian Arbi/wsj.

Konten Jatim, Jakarta -

Hendri Satrio menjadi bintang tamu dalam podcast terbaru Refly Harun pada Senin (20/6/2022). Keduanya membahas tentang banyak hal, salah satunya tentang cara kerja lembaga survei.

Mengawali podcastnya, Refly Harun menggoda Hendri Satrio dengan menyebutnya sebagai "orang yang akan menentukan nasib republik ini". Sebagai informasi, Hensat merupakan pendiri dari lembaga survei "Kedai Kopi".

"Biasanya di tangan lembaga survei, presiden ditentukan. Pokoknya suka-suka lembaga survei," ujar Refly Harun.

"Presidential threshold 20 persen dikonsolidasikan biar si A yang menang," lanjut pria yang punya gelar doktor dari University of Notre Dame itu.

Podcast Refly Harun yang menghadirkan Hendri Satrio kali ini diberi judul "Bingung soal Copras Capres, Yuk Ngobrol Live dengan Hendri Satrio".

Menurut Refly Harun, podcast itu ia adakan agar masyarakat tidak mudah disesatkan oleh lembaga survei. 

Refly sendiri sempat menyinggung perihal pendanaan lembaga survei yang terkadang tidak transparan.

Baca Juga: Bukan Erick Thohir Ataupun Ridwan Kamil, Survei Poltracking Indonesia Sebut Tokoh Ini Jadi Cawapres 2024 Terkuat

"Kalau dia tidak mau deklarasi saya tidak mau percaya survei itu karena dia bisa mainkan metodologi, penyajian, dan lain sebagainya," ucap Refly.

Selain soal pendanaan, Refly juga menyinggung surveyor lembaga survei yang ia sebut kerap mengarahkan responden, baik saat wawancara maupun saat pengisian kuesioner.

Untuk pengisian kuesioner, biasanya responden diminta memilih salah satu dari 10 kandidat potensial. 

Biasanya pertanyaan yang diberikan berbunyi seperti ini: kalau pemilihan presiden digelar hari ini, mana capres yang akan anda pilih.

Jika surveinya semi terbuka, selain 10 nama, responden juga boleh mengisi nama lain di luar 10 nama yang diberikan. Tahap inilah yang Refly sebut kerap diakali oleh lembaga survei.

"Biasanya orang malas ngisi titik-titiknya, pasti preferensinya dari yang ada (di daftar) karena tinggal ngelingkarin."

"Bagaimana caranya agar orang (kandidat) yang didorong ini masuk (dipilih responden), minimal 6 besar. Caranya agak kasar bro, (nama-nama) yang ada di 6 besar dihilangkan, tidak ada di list," ujar Refly.

Menurut Refly, nama-nama kandidat yang dihilangkan biasanya adalah kandidat papan tengah. 

"Begitu nama-nama itu tidak ada, masuklah itu nama (kandidat yang dimajukan lembaga survei)."

"Bagaimana ini. Harusnya survei itu memotret realitas sesungguhnya dan disajikan apa adanya," kata dia.

Baca Juga: Tegas! Pengamat Politik Ini Gak Akan Memilih NasDem Meski Mengusung Ganjar, Ternyata Karena Ini

Menanggapi cerita tersebut, Hendri Satrio menyatakan cara-cara seperti yang Refly katakan itu tidak dilakukan oleh Kedai Kopi. 

Menurut doktor yang mengajar di Universitas Paramadina itu, Kedai Kopi selalu merekam wawancara dengan responden. Kuesioner juga dilakukan lewat aplikasi dan bukan dengan pengisian di kertas.

Lebih lanjut, Hendri Satrio mengatakan surveyor Kedai Kopi juga tidak sama sekali mengarahkan jawaban responden. Ia menyontohkan pernah ada responden yang hanya tahu ciri-ciri kandidat tapi lupa namanya.

"(Kata responden) itu lho yang sering masuk TV tapi saya lupa namanya. Yang seperti itu kan terekam, saya bilang (ke surveyor) kalau sampai diarahkan, batalkan saja. Jadi tidak diarahkan, tidak ada clue sama sekali," ucap Hendri.

Pada akhirnya, responden tidak bisa sama sekali mengingat nama kandidat pilihannya. Hasil wawancara pun dibatalkan.

"Ini untuk membuktikan bahwa kredibilitas surveinya Kedai Kopi patut diapresiasi," pungkas Hendri.

Khazanah Islam: Masuk Daftar Nominator Warisan Budaya Tak Benda, Reog Ponorogo Segera Diakui UNESCO